Beranda / Opini / Kursi sebagai Sumber Kejahatan Terhormat ketika jabatan mengubah manusia menjadi pembohong

Kursi sebagai Sumber Kejahatan Terhormat ketika jabatan mengubah manusia menjadi pembohong

Oleh : Cecep Anang Hardian

Di negeri ini, terlalu banyak kejahatan lahir bukan dari kemiskinan, tetapi dari kursi. Bukan kursi plastik di warung kopi, melainkan kursi kekuasaan jabatan, posisi, wewenang. Kursi yang seharusnya menjadi alat pelayanan publik justru berubah menjadi pabrik kebohongan dan pencurian yang dilegalkan sistem.Banyak orang tidak mencuri sebelum punya kursi. Tapi setelah duduk, mereka belajar mencuri dengan rapi.

Banyak orang tidak berbohong sebelum punya jabatan. Tapi setelah menjabat, kebohongan menjadi bagian dari tugas harian.

Inilah fakta pahit yang terus berulang.Kursi Mengundang Watak Paling Busuk Kursi tidak menciptakan kejahatan. Kursi hanya membuka topeng.Ia memperlihatkan siapa yang sebenarnya serakah, licik, dan tak bermoral.

Begitu seseorang duduk, ia diberi akses: anggaran, kewenangan, tanda tangan. Di titik inilah banyak yang tergoda. Dari sekadar “mengatur”, berubah menjadi “mengambil”. Dari “mengamankan kebijakan”, berubah menjadi “mengamankan kepentingan pribadi”.Dan ketika ketahuan?Mereka tidak mundur.Mereka justru berbohong lebih rapi.

Menjilat ke Atas, Menindas ke Bawah: Pola Abadi Budaya kursi melahirkan manusia dua wajah.Ke atas, mereka menjilat tanpa malu.Ke bawah, mereka menekan tanpa ampun.Atasan dibohongi dengan laporan indah.Rakyat dibungkam dengan aturan kaku.

Prestasi tidak penting. Integritas dianggap ancaman. Yang naik bukan yang bekerja, tapi yang paling patuh dan paling pandai menyenangkan pemilik kursi di atasnya. Inilah sebabnya birokrasi gemuk tapi miskin nurani.

Kursi dan Kejahatan yang DinormalisasiPencurian kecil disebut korupsi.Pencurian besar disebut kebijakan.Manipulasi anggaran disebut efisiensi.Pembungkaman kritik disebut stabilitas.

Kursi telah mengubah bahasa kejahatan menjadi bahasa resmi. Mereka yang duduk merasa terhormat meski tangannya kotor. Mereka merasa suci karena dilindungi jabatan.

Padahal hakikatnya sama saja mencuri tetap mencuri, meski dilakukan di balik meja rapat.Sistem yang Tak Menata Kursi = Pabrik Penjahat

Selama kursi tidak diawasi ketat, tidak dibatasi, dan tidak mudah dicabut, maka jangan heran jika kursi terus melahirkan malapetaka. Kita menciptakan monster, lalu pura-pura kaget saat monster itu memangsa publik.

Kursi tanpa kontrol adalah undangan terbuka bagitukang bohong berjubah pejabattukang colong berseragam jabatanpenjilat yang menjual institusi demi posisi

Ini bukan penyimpangan. Ini pola struktural.Kursi Harus Ditakuti, Bukan Diperebutkan

Orang yang layak duduk di kursi adalah mereka yang siap turun kapan saja.Bukan yang mati-matian mempertahankannya.

Jika kursi lebih ditakuti kehilangannya daripada hilangnya kejujuran, maka pejabat itu sudah gagal bahkan sebelum bekerja. Jabatan seharusnya membuat seseorang takut berbuat salah, bukan berani melanggar.

Cabut Kursi, Selamatkan Negeri Jika kursi terus dijadikan alat kejahatan, maka solusinya sederhana tapi berat:cabut kursinya.

Bukan rakyat yang perlu terus dinasihati, tapi para pemilik kursi yang harus diingatkan bahwa jabatan bukan tameng dosa. Jika kursi tak lagi ditata dengan moral dan ketegasan hukum, maka kehancuran hanyalah soal waktu.

Karena pada akhirnya, bukan kursi yang membawa malapetakamelainkan manusia yang terlalu lama duduk, lupa bahwa ia pernah berdiri sebagai rakyat biasa.

 

( red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *