Beranda / Nasional / Setahun Dipimpin Prabowo ,Hutan Indonesia Hilang Setara 4 Kali Jakarts

Setahun Dipimpin Prabowo ,Hutan Indonesia Hilang Setara 4 Kali Jakarts

( Jakarta) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Nasional mencatat sepanjang tahun 2025 terjadi deforestasi seluas 283.803 hektare di Indonesia, setara empat kali luas wilayah DKI Jakarta. Data WALHI menunjukkan deforestasi pada 2025 melonjak dari 217.000 hektare pada 2024 menjadi 283.803 hektare.

Manager Kampanye Hutan dan Kebun WALHI, Uli Arta Siagian, menegaskan peningkatan ini terjadi selama satu tahun pemerintahan Prabowo.

“Sepanjang 2025 kami mencatat deforestasi seluas 283.803 hektare. Ini meningkat dari tahun 2024. Kalau kita lihat data Kemenhut, sepanjang 2024 mereka menyebut deforestasi seluas 217.000 hektare,”  kata Uli dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).

Artinya, ada peningkatan deforestasi selama satu tahun Prabowo memimpin,” tambahnya.

Ambisi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen dan Eksploitasi Hutan

Menurut WALHI, lonjakan deforestasi berkorelasi dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Ekstraksi sumber daya alam, termasuk hutan, dianggap menjadi cara cepat menopang ambisi tersebut.

“Ekstraksi terhadap sumber daya alam dilakukan secara terus menerus demi pertumbuhan ekonomi 8 persen, maka akan jauh lebih banyak yang dikorbankan dari sistem kehidupan kita, mulai dari ekosistem kemudian sosial ekonomi masyarakat,” ungkap Uli.

WALHI menilai negara melegalkan eksploitasi hutan melalui berbagai model perizinan, mulai dari Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP), hingga Hak Guna Usaha (HGU).

Dampak Nyata: Banjir Bandang dan Longsor

Kerusakan hutan disebut berkontribusi langsung terhadap bencana ekologis. WALHI menyoroti banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai konsekuensi logis dari deforestasi.

“Konsekuensi paling logis adalah bencana ekologis, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat itu luluh lantah akibat salah urus pemerintah terhadap ekosistem penting kita. Salah satunya hutan, daerah aliran sungai,” pungkas Uli.

 

( AWW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *