KOTA TANGERANG — Di momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang, semangat partisipasi masyarakat seharusnya menjadi roh perayaan. Namun ironisnya, kegiatan Lomba Karikatur Pelajar yang digagas sebagai bagian dari rangkaian peringatan tersebut justru minim respons dari para pemangku kebijakan.
Lomba yang dirancang untuk mendorong siswa menjadi aktif, kreatif, produktif, berani, dan percaya diri itu dinilai sebagai bentuk nyata partisipasi generasi muda dalam memaknai perjalanan kota. Akan tetapi, ketika gagasan ini disampaikan kepada jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tangerang dan unsur di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang, tidak tampak adanya arahan maupun dukungan konkret.
Padahal, dalam konteks HUT ke-33, ruang ekspresi pelajar semestinya menjadi simbol refleksi: sejauh mana pembangunan kota telah menyentuh aspek keadilan sosial dan kualitas pendidikan.
Kritik Tajam di Momentum Refleksi Kota
Ketua MCI Pejuang Keadilan Kota Tangerang, Asep Wawan Wibawan, menyampaikan kritik yang lebih tajam. Menurutnya, peringatan hari jadi kota bukan hanya seremoni dan panggung hiburan, tetapi momentum evaluasi terbuka.
“HUT ke-33 seharusnya jadi ruang refleksi, bukan sekadar euforia. Kalau kegiatan yang memberi ruang berpikir kritis bagi pelajar saja tidak direspons, lalu apa arti perayaan ini bagi generasi muda?” tegas Asep.
Ia menilai, karikatur adalah bahasa kritik yang santun dan edukatif. Justru melalui karya visual tersebut, siswa dapat menyampaikan pandangan tentang ketimpangan pembangunan, pelayanan publik, hingga persoalan sosial secara kreatif dan bertanggung jawab.
“Kalau pemerintah benar-benar percaya diri dengan capaian pembangunan, mestinya tidak takut pada kritik anak-anak sekolah. Karikatur itu cermin. Dan kota yang matang adalah kota yang berani bercermin,” tambahnya.
Konsisten Mengawal Ruang Ekspresi
Meski tanpa dukungan resmi, MCI memastikan Lomba Karikatur tetap digelar sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam HUT ke-33 Kota Tangerang. Tema yang diangkat akan mendorong siswa menuangkan gagasan tentang pembangunan kota baik apresiasi maupun kritik secara santun dan konstruktif.
Bagi MCI, pembangunan sejati bukan hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga keberanian membuka ruang dialog bagi generasi muda.
“Jika di usia 33 tahun kota ini ingin disebut dewasa, maka ia harus dewasa pula dalam menyikapi kritik. Jangan sampai yang bertambah hanya usia, sementara ruang demokrasi justru menyempit,” pungkas Asep.
Momentum HUT ke-33 ini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa masa depan Kota Tangerang tidak hanya ditentukan oleh kebijakan elite, tetapi juga oleh keberanian generasi mudanya untuk bersuara.
( red )











