Oleh: Cecep Anang Hardian
Ramadhan selalu datang membawa dua undangan sekaligus: undangan untuk berpikir dan undangan untuk merasa. Ia tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar, tetapi juga mengajak kita menata ulang isi kepala dan membersihkan isi hati.
Di kepala, manusia menyimpan ilmu.
Di hati, manusia menjaga iman.
Keduanya sering berjalan beriringan, namun tidak jarang juga saling berjauhan.
Ilmu membuat kita mengerti. Iman membuat kita peduli.Ilmu memberi kemampuan. Iman memberi arah.
Di era modern ini, orang bisa sangat cerdas—fasih berbicara, lihai berhitung, menguasai teknologi, bahkan memahami strategi kehidupan. Namun tanpa iman, kecerdasan bisa kehilangan kompas. Ia tajam, tetapi tidak selalu bijak. Cepat, tetapi tidak selalu benar.
Sebaliknya, iman tanpa ilmu bisa membuat seseorang tulus, tetapi rapuh menghadapi realitas. Niatnya baik, namun langkahnya kurang tepat.
Ramadhan hadir untuk mempertemukan keduanya.Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan pengendalian diri. Saat perut kosong, kepala dipaksa berpikir lebih jernih. Saat hawa nafsu ditahan, hati dilatih lebih peka. Dalam sunyi sahur dan hening tarawih, kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita kendalikan.
Ilmu mengajarkan kita bagaimana dunia bekerja.Iman mengajarkan kita mengapa kita hidup.
Tanpa ilmu, manusia mudah tersesat oleh kabar palsu, prasangka, dan fanatisme.Tanpa iman, manusia mudah tergelincir oleh ambisi, keserakahan, dan egoisme.
Ramadhan mengajarkan keseimbangan.Saat membaca Al-Qur’an, kita tidak hanya melafalkan ayat, tetapi merenungkannya. Di situlah ilmu dan iman bertemu. Ketika bersedekah, kita tidak hanya memberi karena aturan agama, tetapi karena hati tersentuh. Ketika menahan amarah, kita tidak hanya takut dosa, tetapi sadar bahwa kedewasaan adalah kemenangan terbesar.
Di bulan suci ini, kita diajak mengevaluasi:Apakah isi kepala kita sudah diisi ilmu yang bermanfaat?
Apakah isi hati kita sudah dipenuhi iman yang menenangkan?Sebab kecerdasan tanpa iman bisa melahirkan keangkuhan.Dan iman tanpa ilmu bisa melahirkan kerapuhan.
Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Ia mendidik kepala agar rendah hati, dan melatih hati agar tetap kuat. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk yang merasakan dan meyakini.
Akhirnya, kita sadar: Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan.Iman adalah kekuatan yang membuat kita tetap berjalan.
Semoga Ramadhan tahun ini tidak hanya membuat kita lebih rajin beribadah, tetapi juga lebih bijak dalam berpikir dan lebih lembut dalam bersikap.
Karena ketika kepala dan hati selaras, di situlah lahir pribadi yang utuh.Selamat menunaikan ibadah Ramadhan. 🌙✨
( red )











