Beranda / Berita / Artikel / Perut Kosong, Kesadaran Terkunci Catatan Kritis atas Iman yang Diperalat

Perut Kosong, Kesadaran Terkunci Catatan Kritis atas Iman yang Diperalat

Oleh: Cecep Anang Hardian

Kelaparan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama ketidakadilan. Namun yang lebih berbahaya dari perut kosong adalah pikiran yang dibuat kenyang oleh ilusi. Di saat rakyat mulai mempertanyakan hidup yang serba kekurangan, yang disodorkan bukan perubahan, melainkan penghiburan dibungkus rapi dalam bahasa langit.

Sejarah terlalu sering memperlihatkan bagaimana narasi keagamaan dimanfaatkan untuk meredam gejolak sosial. Kemiskinan tidak lagi dilihat sebagai kegagalan sistem, tetapi dipoles menjadi “ujian”. Ketimpangan dianggap “takdir”. Dan kesabaran dipaksakan menjadi satu-satunya sikap yang dianggap mulia. Dalam kondisi seperti ini, agama kehilangan daya kritisnya, berubah dari kekuatan pembebasan menjadi alat penjinak kesadaran.

Perlu ditegaskan, iman bukanlah masalah. Ia adalah wilayah sakral dalam diri manusia. Namun ketika iman direduksi menjadi alat legitimasi atas ketidakadilan, di situlah persoalan bermula. Surga dijanjikan sebagai kompensasi bagi penderitaan yang seharusnya bisa diselesaikan di dunia. Rakyat diminta menerima, bukan mempertanyakan. Dipuji karena sabar, tetapi tidak pernah didorong untuk sadar.

Sementara itu, di sisi lain realitas, segelintir elite terus menumpuk kekayaan dari kerja keras banyak orang. Ketimpangan ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari sistem yang dirancang, dijaga, dan dilanggengkan. Namun anehnya, kondisi ini sering dibenarkan dengan dalih moral dan spiritual seolah-olah ketidakadilan memiliki restu ilahi.

Pertanyaannya sederhana, namun jarang dijawab secara jujur: apakah benar Tuhan menghendaki ketimpangan? Ataukah manusia yang menciptakan ketimpangan, lalu menggunakan nama Tuhan untuk melindunginya?

Ketika agama justru mematikan daya kritis dan keberanian berpikir, maka ia telah keluar dari jalurnya. Sebab esensi ajaran spiritual seharusnya membebaskan manusia dari penindasan, bukan menyesuaikan manusia dengan penindasan itu sendiri.

Kesadaran adalah kunci. Rakyat yang sadar tidak mudah ditinabobokan oleh janji-janji abstrak. Mereka mampu membedakan antara iman yang murni dan iman yang diperalat. Mereka memahami bahwa kemiskinan bukan garis nasib yang tak bisa diubah, melainkan akibat dari struktur yang bisa dikritisi dan diperbaiki.

Sudah saatnya berhenti menjadikan penderitaan sebagai bahan ceramah tanpa solusi. Rakyat tidak membutuhkan kata-kata yang menenangkan, tetapi perubahan yang nyata. Karena pada akhirnya, keadilan bukan sesuatu yang jatuh dari langit—ia harus diperjuangkan, ditegakkan, dan dijaga di bumi.

 

( red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *