Beranda / Daerah / Bersih Dadakan, Banjir Berulang Dan Rutinitas yang Selalu Terlambat

Bersih Dadakan, Banjir Berulang Dan Rutinitas yang Selalu Terlambat

Pengangkutan tumpukan sampah di saluran irigasi Sipon oleh Pemerintah Kota Tangerang kembali dipublikasikan sebagai langkah antisipasi banjir. Aksi ini memang terlihat sigap. Namun, justru dari sini publik patut bertanya: ke mana rutinitas itu saat hujan belum turun dan banjir belum mengancam?

Tumpukan sampah tidak muncul dalam semalam. Plastik, limbah pasar, dan berbagai residu lainnya adalah akumulasi pembiaran yang berlangsung lama. Artinya, sebelum petugas “diterjunkan seharian penuh”, ada hari, minggu, bahkan bulan tanpa pengawasan yang memadai. Jika saluran irigasi dijaga secara berkala, mustahil penyumbatan sedemikian parah baru disadari ketika kondisi sudah darurat.

Pola yang terus berulang ini memperlihatkan satu hal manajemen kebersihan dan drainase masih bekerja secara reaktif, bukan preventif. Pemkot bergerak ketika ancaman banjir sudah menjadi isu publik, ketika genangan mulai muncul, dan ketika tekanan sosial meningkat. Setelah itu? Rutinitas kembali mengendur, hingga siklus yang sama terulang di musim hujan berikutnya.

Ajakan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan memang perlu, tetapi tidak boleh dijadikan alibi untuk menutupi lemahnya sistem pemeliharaan. Pemerintah memiliki perangkat, anggaran, dan kewenangan. Maka tanggung jawab utama ada pada pengawasan lapangan yang konsisten, penjadwalan pembersihan yang jelas, serta evaluasi kinerja OPD yang terukur bukan sekadar imbauan moral setiap kali banjir mengintai.

Lebih ironis lagi, wilayah Sipon dan Cipondoh bukan titik baru dalam peta kerawanan banjir. Jika lokasi yang sama terus menjadi sorotan dengan masalah yang sama, maka persoalannya bukan lagi teknis semata, melainkan kegagalan menjadikan pencegahan sebagai budaya kerja.

Normalisasi saluran air seharusnya menjadi pekerjaan rutin, senyap, dan berkelanjutan bukan pekerjaan heroik yang hanya muncul di berita. Selama kebersihan irigasi masih diperlakukan sebagai agenda musiman, maka banjir akan terus menjadi “tamu tahunan” Kota Tangerang.

Pada akhirnya, publik berhak menagih komitmen yang lebih serius,apakah Pemkot akan membangun sistem yang mencegah banjir sejak awal, atau terus membersihkan sampah setelah ancaman datang?

 

( aww)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *