Tangerang . Didampingi pengurus RW , Petugas Dinas PUPR Kota Tangerang pantau beberapa titik banjir di wilayah RW 08 Kelurahan Cimone Jaya, Kecamatan Karawaci
” Tadi saya diminta mendampingi petugas PUPR Kota Tangerang untuk melihat beberapa titik banjir di wilayah RW 08 .
Ya, supaya lebih jelas saya ajak keliling keberapa titik lokasi banjir di lingkungan RT 02, 03 dan 04. Juga saya pertemukan dengan RT nya masing – – masing” Kata Jaja, Humas RW 08 Kelurahan Cimone Jaya
Mengetahui hal tersebut, salah satu warga setempat yang juga sebagai seorang jurnalis , Asep Wawan Wibawan, mengkritisi keras kinerja Dinas PUPR Kota Tangerang. Yang menurutnya, buat apa dipantau, bila tidak ada solusinya
” Pantau dan pantau terus.. itu sudah sering kali dilakukan dinas PUPR Kota Tangerang. Tapi mana sampai sekarang gak ada solusinya” Tanya Asep, dikediamannya. Rabu ( 11/2/2026)
Menurut Asep, Banjir yang sudah puluhan tahun lamanya sering dialami oleh warga dilingkungannya , terjadi akibat tata kelola pembangunan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan
” Banjir tejadi bukan karena kami buang sampah sembarangan, tapi karena tata kelola atau perencanaan pembangunan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. lebih memperhatikan keuntungan pribadi tanpa peduli dengan dampak yang akan terjadi.
Yaah .., kalau kami jelaskan , cape menjelaskannya. sudah sering kami jelaskan , malah kami dianggap oposisi bahkan kami kurang disukai. Tapi itu tidak akan membuat kami berhenti mengkritisi dan menyikapi,sebelum ada solusi.
Bila perlu kami lakukan aksi tidak hanya dengan narasi tapi melakukan aksi unjuk rasa, menyerukan Stop bayar pajak .
Buat apa bayar pajak bila hasilnya lebih banyak dinikmati dinikmati oleh para anggota dewan dan oleh para pemangku kebijakan. Sementara ratapan masyarakat ditingkat bawah dimasa bodohkan ” Tegas Asep
Asep menambahkan bahwa kerugian warga terdampak banjir dari sisi materil maupun non materil sangat besar. Namun kurang ada perhatian secara berkeadilan dari Pemerintah Daerah Kota Tangerang
” Setiap terjadi banjir , Kami harus berjibaku membersihkan genangan air lumpur yang masuk kedalam rumah. Kasur, bantal ,guling , karpet , pakaian. dan yang lainnya menjadi korban.. Yang paling menyedihkan bila banjir terjadi pada malam hari, seperti yang terjadi kemarin.. lelah dan capeknya minta ampun. mana bulan puasa
Untuk jangka panjang, harga jual tanah di wilayah kami menjadi murah’. Pembeli tidak ada yang mau membeli tanah dilingkungan kami sesuai NJOP, karena mereka tau lingkungan kami langganan Banjir. Jujur saja diantara kami ada beberapa warga yang terpaksa menjual tanahnya dengan harga sangat murah .
Lebih lanjut , Asep memperlihatkan bukti ketidakadilan Pemerintah Daerah Kota terhadap warga terdampak banjir khususnya yang dialami oleh keluarga besarnya
” Beberapa waktu lalu kami mencoba mengajukan surat permohonan keringanan pelunasan PBB di atas 25 %, Ke Bapenda, namun tidak di ACC .
Ya udahlah lebih baik tidak bayar PBB m Bila perlu terus menyerukan Stop bayar PBB. .
Masyarakat jangan khawatir, meskipun tunggakan PBB segunung ,
tidak akan disita pemerintah. Terkecuali tanah itu tidak dimanfaatkan.
Lebih Stop bayar PBB Selama Pemerintah Daerah Kota Tangerang belum bisa mengatasi banjir ” Pungkas Asep
( aww )












