Beranda / Daerah / Takut Kritik atau Takut Terbongkar? Ketika Suara Publik Mengusik Kenyamanan Kekuasaan di Kota Tangerang

Takut Kritik atau Takut Terbongkar? Ketika Suara Publik Mengusik Kenyamanan Kekuasaan di Kota Tangerang

Di Kota Tangerang, kritik tampaknya bukan lagi dianggap sebagai bagian dari demokrasi. Ia diperlakukan seperti gangguan. Seolah-olah, suara publik yang lantang adalah ancaman yang harus diredam.

Ketika Ketua DPD Aliansi Wartawan Independen Indonesia (AWII) Provinsi Banten, Cecep Anang Hardian, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Media Center Indonesia (MCI) Kota Tangerang, pesan yang muncul sebenarnya sederhana: demokrasi tidak boleh sunyi.

Namun yang terjadi?Semakin kritis, semakin tidak disukai.Semakin vokal, semakin dianggap mengganggu.

Lalu pertanyaannya: siapa yang sebenarnya terusik?

Transparansi: Kata Indah yang Belum Tuntas Isu transparansi anggaran, efektivitas pengawasan legislatif, hingga keberpihakan terhadap masyarakat kecil bukan sekadar opini kosong. Itu adalah kegelisahan publik yang nyata.

Rakyat berhak tahu:Ke mana arah kebijakan daerah berjalan?Seberapa kuat DPRD menjalankan fungsi kontrol terhadap eksekutif?

Mengapa suara masyarakat kerap terasa lebih keras di luar gedung dewan dibanding di dalamnya?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini dianggap sebagai serangan, maka ada yang keliru dalam memahami demokrasi.

Legislatif Wakil Rakyat atau Wakil Kenyamanan?

Fungsi pengawasan bukan sekadar formalitas rapat dan dokumentasi foto kegiatan. Ia adalah mandat moral.Publik tidak membutuhkan seremoni. Publik membutuhkan keberanian.

Keberanian untuk berbeda sikap jika kebijakan tidak berpihak.Keberanian untuk menyampaikan keberatan jika ada ketidaksesuaian.Keberanian untuk berdiri di sisi rakyat, bukan sekadar berdiri di podium.

Jika kritik dianggap mengganggu stabilitas, mungkin yang terganggu bukan stabilitas pemerintahan, melainkan stabilitas kenyamanan.

Kritik,Alarm yang Tak Boleh Dimatikan, MCI menyatakan bahwa kritik yang disampaikan berbasis fakta dan realitas lapangan. AWII mendukung karena fungsi kontrol sosial memang tidak boleh surut.

Dalam sistem yang sehat, alarm dibutuhkan.Mematikan alarm tidak pernah menyelesaikan kebakaran.

Jika ada kegelisahan publik soal kebijakan, maka jawabannya adalah klarifikasi dan transparansi — bukan resistensi dan pembungkaman moral.

Semakin Dibenci, Semakin MenjadiKalimat ini bukan ancaman.Ia adalah komitmen.Komitmen bahwa kontrol sosial tidak akan berhenti hanya karena tidak disukai.

Komitmen bahwa demokrasi bukan ruang sunyi yang hanya diisi pujian.Karena yang lebih berbahaya dari kritik adalah ketakutan terhadap kritik.

Dan jika ada yang merasa terusik, mungkin sudah waktunya bercermin:

yang salah suara rakyatnya, atau kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak?

 

( aww )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *