JAKARTA, 31 Maret 2026 — Himpunan Mahasiswa Banten Jakarta (HMB Jakarta) merilis kajian strategis terkait bursa calon Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tangerang Selatan. Dalam rilis tersebut, HMB Jakarta menilai proses pengisian jabatan tidak boleh sekadar menjadi rutinitas administratif tanpa arah pembenahan yang jelas.
Ketua Umum HMB Jakarta, Deri, menegaskan bahwa Dispora Tangsel membutuhkan figur yang mampu mendorong perubahan substantif, bukan hanya “pergantian wajah birokrasi”.
“Jangan sampai pemilihan Kadispora hanya menjadi formalitas. Yang dibutuhkan adalah sosok dengan kapasitas eksekusi dan visi yang jelas untuk membangkitkan sektor kepemudaan dan olahraga,” ujarnya.
Berdasarkan data rekam jejak yang dirilis Parlemen Banten pada 26 Maret 2026, HMB Jakarta melakukan analisis terhadap lima kandidat. Kajian ini menyoroti kekuatan dan kelemahan masing-masing figur dalam menjawab tantangan stagnasi pembinaan olahraga di Tangerang Selatan.
Profil Singkat dan Catatan HMB Jakarta:
1. Mukroni (Camat Pamulang)
Dinilai memiliki keunggulan dalam pendekatan kewilayahan dan kedekatan dengan masyarakat. Namun, latar belakang tersebut dinilai berpotensi membuat program olahraga cenderung bersifat lokal dan kurang berorientasi pada prestasi jangka panjang.
2. Virgo Agustinus Sembiring (Kabid Pertanian dan Peternakan)
Memiliki pengalaman dalam pengelolaan sumber daya dan pemberdayaan kelompok. Meski demikian, minimnya rekam jejak di bidang kepemudaan dan olahraga dinilai menjadi tantangan dalam membangun arah kebijakan Dispora yang spesifik.
3. Ali Akbar (Kabag Perencanaan dan Keuangan)
Dianggap kuat dalam aspek perencanaan dan tata kelola anggaran. Namun, pendekatan yang terlalu administratif dinilai berisiko menghambat fleksibilitas dalam pengembangan olahraga yang membutuhkan inovasi.
4. Budi Mulia (Guru Ahli Madya)
Memiliki pemahaman dalam pembinaan karakter dan pendidikan usia dini. Akan tetapi, keterbatasan pengalaman dalam struktur birokrasi dinilai berpotensi menjadi kendala dalam pengelolaan dinas yang kompleks.
5. Ucok AH Siagian (Kabag Perekonomian)
Menjadi satu-satunya kandidat dengan pengalaman langsung di Dispora. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Sarana dan Prasarana serta Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Meski demikian, ia dinilai menghadapi tantangan untuk melakukan pembaruan tanpa terjebak pada pola lama.
Ucok Dinilai Punya Modal Kuat
Dalam analisis akhirnya, HMB Jakarta menilai Ucok AH Siagian memiliki keunggulan komparatif dibanding kandidat lain. Pengalaman teknis di Dispora disebut memberi pemahaman mendalam terhadap persoalan infrastruktur dan pembinaan atlet.
Selain itu, posisinya sebagai Ketua cabang olahraga di Tangsel dinilai dapat mempermudah konsolidasi dengan para atlet dan organisasi olahraga. Sementara latar belakangnya di bidang perekonomian dianggap berpotensi mendorong kolaborasi dengan sektor swasta.
Ketua Bidang Minat dan Bakat HMB Jakarta, Arisal, turut menyoroti pentingnya kedekatan pemimpin Dispora dengan ekosistem atlet. Menurutnya, kepemimpinan di sektor olahraga tidak cukup hanya berbasis administrasi, tetapi juga harus memahami dinamika pembinaan dan kebutuhan atlet secara langsung.
“Dispora itu bukan sekadar soal program dan anggaran, tapi soal bagaimana menciptakan ekosistem yang hidup bagi atlet. Dibutuhkan figur yang bisa berbicara dalam bahasa yang sama dengan pelaku olahraga, memahami ritme pembinaan, dan mampu menjembatani kebutuhan di lapangan dengan kebijakan,” ujar Arisal.
Ia menambahkan, pengalaman teknis dan jejaring yang dimiliki kandidat menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan ke depan, terutama untuk mendorong lahirnya prestasi yang berkelanjutan.
“HMB Jakarta melihat Ucok bukan hanya sebagai kandidat, tetapi sebagai figur yang memiliki kesiapan teknis dan jaringan untuk mempercepat pembenahan Dispora,” kata Deri.
Ia menambahkan, tantangan ke depan bukan hanya memperbaiki tata kelola, tetapi juga mengubah paradigma Dispora agar lebih berorientasi pada investasi dan prestasi.
“Jika ingin keluar dari stagnasi, dibutuhkan sosok yang sudah memahami persoalan di lapangan sekaligus mampu menerjemahkannya ke dalam kebijakan,” tutupnya.
( red )











