Beranda / Berita / Artikel / KERANCUAN ATAS KERANCUAN: REKAYASA KABUT UNTUK MENUMPULKAN AKAL PUBLIK

KERANCUAN ATAS KERANCUAN: REKAYASA KABUT UNTUK MENUMPULKAN AKAL PUBLIK

Oleh: Cecep Anang Hardian

Ini bukan lagi sekadar kekeliruan. Ini pola.

Kerancuan hari ini tidak hadir sebagai kecelakaan berpikir, tetapi sebagai metode. Ia dirancang, dipelihara, lalu diproduksi ulang dengan wajah baru seolah-olah itu adalah penjelasan. Padahal, yang terjadi hanyalah satu kebohongan ditumpuk di atas kebohongan lain—hingga publik kehilangan pijakan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang direkayasa.

Kerancuan pertama mungkin bisa dimaafkan. Tetapi ketika ia dijawab dengan kerancuan kedua, itu bukan lagi ketidaktahuan itu adalah kesengajaan.

Narasi-narasi yang beredar bukan untuk menjelaskan realitas, melainkan untuk mengaburkannya. Bahasa dipelintir, data dipilih sepotong-sepotong, dan logika dipatahkan secara halus agar publik tidak sadar bahwa mereka sedang disesatkan. Ini bukan komunikasi—ini manipulasi.

Yang lebih berbahaya, kerancuan itu kini diproduksi oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga kejernihan. Pejabat, institusi, bahkan sebagian intelektual, ikut bermain dalam pusaran ini. Mereka tidak lagi berfungsi sebagai penerang, tetapi sebagai pengelola kabut. Mereka tidak meluruskan, mereka justru memperkeruh.

Di titik ini, kerancuan telah berubah menjadi alat kekuasaan.

Semakin publik bingung, semakin mudah mereka dikendalikan. Ketika orang tidak lagi yakin pada fakta, mereka akan bergantung pada otoritas. Dan di situlah kekuasaan bekerja tanpa perlawanan—bukan karena benar, tetapi karena tidak lagi bisa dibantah.

Ini adalah bentuk tirani paling halus: bukan dengan membungkam suara, tetapi dengan menenggelamkannya dalam kebisingan yang tidak bermakna.

Akibatnya, kritik kehilangan daya gigit. Setiap pertanyaan dijawab dengan narasi baru yang sama kaburnya. Setiap upaya meluruskan justru ditarik masuk ke dalam labirin kebingungan. Publik dipaksa berputar-putar dalam lingkaran tanpa ujung—lelah, lalu menyerah.

Dan ketika publik menyerah, di situlah kekuasaan mencapai bentuk paling absolutnya.

Kita harus jujur: kerancuan atas kerancuan bukan lagi masalah teknis, melainkan krisis moral. Ini tentang keberanian untuk berkata benar di tengah sistem yang diuntungkan oleh kebohongan. Ini tentang memilih menjadi jernih ketika lingkungan justru mendorong untuk tetap kabur.

Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi “siapa yang diuntungkan dari kebingungan ini?”

Karena setiap kabut yang diciptakan, pasti punya tujuan.

Dan selama kerancuan terus dipelihara, selama itu pula kebenaran akan dianggap sebagai ancaman bukan kebutuhan.

( red:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *