Beranda / Berita / Artikel / KETIKA ILMU TINGGI, TETAPI JIWA KEHILANGAN ARAH

KETIKA ILMU TINGGI, TETAPI JIWA KEHILANGAN ARAH

Spiritualitas, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Cecep Anang Hardian
Zaman boleh berubah. Teknologi boleh semakin canggih. Ilmu pengetahuan boleh berkembang tanpa batas. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang: kemanusiaan.
Hari ini manusia mampu menciptakan mesin yang berpikir, tetapi belum tentu mampu mengendalikan pikirannya sendiri.

Kita mampu berbicara tentang kecerdasan buatan, tetapi terkadang lupa membangun kecerdasan hati.
Kita bangga dengan pendidikan tinggi, gelar berderet, jabatan bertingkat, tetapi pertanyaannya sederhana:

Apakah ilmu itu membuat manusia semakin beradab?
Sebab ilmu pengetahuan tanpa spiritualitas dapat berubah menjadi alat kesombongan. Kebudayaan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi sekadar seremonial. Dan spiritualitas tanpa ilmu dapat membuat manusia sulit membaca perubahan zaman.
Maka ketiganya harus berjalan bersama.

Ilmu memberi cahaya kepada pikiran. Kebudayaan memberi akar kepada identitas. Spiritualitas memberi arah kepada kehidupan.
Yang menjadi persoalan bukanlah kemajuan.
Yang harus kita pertanyakan adalah ke mana kemajuan itu membawa manusia?
Sebab tidak semua yang baru berarti lebih baik. Dan tidak semua yang modern berarti lebih beradab.

Ada manusia yang hidup di tengah teknologi canggih tetapi kehilangan sopan santun.
Ada yang memiliki jabatan tinggi tetapi lupa bagaimana menghormati orang kecil.
Ada yang berbicara tentang moral di depan publik, tetapi berbeda ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi.
Ada pula yang merasa paling pintar hanya karena memiliki gelar dan kekuasaan.

Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa dirinya masih memiliki banyak keterbatasan.

Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Begitu pula kebudayaan.
Jangan sampai budaya hanya kita kenakan ketika ada acara resmi, kemudian kita tinggalkan ketika berhadapan dengan kehidupan sehari-hari.
Apa arti pakaian adat jika perilaku kita kehilangan tata krama?
Apa arti berbicara tentang leluhur jika kita tidak mampu menjaga nilai yang diwariskan?
Apa arti membanggakan budaya jika generasi muda justru semakin jauh dari akar sejarahnya?

Kebudayaan bukan sekadar benda peninggalan masa lalu.
Kebudayaan adalah nilai yang harus hidup dalam perilaku manusia hari ini.
Dan spiritualitas bukan sekadar simbol.
Spiritualitas seharusnya hadir ketika seseorang memegang kekuasaan, ketika mengelola uang rakyat, ketika membuat keputusan, ketika berbicara kepada masyarakat, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebab ukuran moral seseorang bukan hanya ketika dirinya dilihat banyak orang.

Justru karakter sesungguhnya terlihat ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada kepentingan yang bisa diperoleh.
Di situlah spiritualitas diuji.
Kita tidak membutuhkan manusia yang hanya pintar berbicara tentang kebenaran.
Kita membutuhkan manusia yang berani hidup di dalam kebenaran.
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya hafal sejarah.
Kita membutuhkan generasi yang mampu mengambil pelajaran dari sejarah.

Dan kita tidak membutuhkan kemajuan yang hanya membuat manusia semakin kaya secara materi, tetapi miskin secara batin.
Karena bangsa yang kehilangan budaya akan kehilangan identitas.
Bangsa yang kehilangan ilmu akan kehilangan kemampuan menghadapi zaman.

Dan manusia yang kehilangan spiritualitas akan kehilangan arah ketika memiliki kekuasaan, ilmu dan kesempatan.

Maka sudah waktunya kita berhenti mengukur kemajuan hanya dari gedung yang tinggi, teknologi yang canggih, angka pertumbuhan ekonomi atau banyaknya gelar akademik.
Ukuran kemajuan yang paling penting adalah manusia.
Apakah manusia semakin jujur?
Apakah semakin menghargai sesama?
Apakah semakin bertanggung jawab?
Apakah semakin peduli kepada lingkungan dan masyarakat?
Apakah semakin mampu membedakan antara kebutuhan dan keserakahan?
Dan yang paling penting:
Apakah semakin dekat kepada nilai-nilai kebaikan?
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang hanya karena seberapa tinggi jabatannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa panjang gelarnya.

Manusia akan dikenang dari jejak yang ditinggalkannya.
Karena itu, mari kita bangun peradaban yang tidak hanya pintar, tetapi juga beradab.
Peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara budaya.
Peradaban yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga sehat secara moral.

Dan peradaban yang tidak hanya sibuk mengejar dunia, tetapi masih memiliki kesadaran bahwa kehidupan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kekuasaan dan materi.
Ilmu tanpa adab bisa menjadi kesombongan.
Kekuasaan tanpa spiritualitas bisa menjadi kesewenang-wenangan.
Kebudayaan tanpa nilai hanya menjadi tontonan.
Tetapi ketika ilmu, budaya dan spiritualitas berjalan bersama, manusia dapat menjadi benar-benar manusia.(jer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *