Ketika Kesalehan Kehilangan Nurani
Oleh: Cecep Anang Hardian
Ada ironi yang semakin layak direnungkan dalam kehidupan hari ini: manusia bisa begitu sibuk menjalankan ritual, tetapi justru lupa menggunakan akal sehat, menjaga akhlak, dan memperjuangkan keadilan.
Ritual diagungkan, simbol kesalehan dipertontonkan, tetapi kejujuran sering diabaikan dan penderitaan sesama tak jarang hanya menjadi tontonan.
Apakah kita sedang memperdalam makna spiritualitas, atau sekadar sibuk mempertontonkan kesalehan?
Ritual pada hakikatnya bukan sekadar rangkaian gerakan dan ucapan. Ia seharusnya membentuk manusia yang lebih bijaksana, jujur, rendah hati, serta memiliki keberanian untuk membela kebenaran. Namun, ketika ritual berhenti pada seremoni, sementara perilaku tidak berubah, yang tersisa hanyalah simbol tanpa substansi.
Kita bisa menyaksikan orang berbicara tentang moralitas, tetapi enggan mengoreksi ketidakadilan. Ada yang lantang menyerukan kebaikan, tetapi diam ketika kepentingan dan kekuasaan mulai bermain. Ada pula yang merasa paling benar, seolah kritik merupakan penghinaan dan perbedaan pendapat adalah ancaman.
Di sinilah persoalan sesungguhnya: bukan ritual yang bermasalah, melainkan manusia yang menjadikan ritual sebagai ukuran tunggal kebenaran dirinya.
Lebih memprihatinkan ketika akal sehat dianggap sebagai gangguan, pertanyaan dipandang sebagai pembangkangan, dan kritik diperlakukan sebagai permusuhan. Padahal, tanpa kemampuan berpikir jernih, manusia mudah terjebak dalam fanatisme, manipulasi, dan pembenaran terhadap kesalahan.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dampaknya bisa lebih luas. Ketika simbol lebih dihargai daripada integritas, pencitraan lebih dipentingkan daripada pengabdian, dan seremoni lebih dirayakan daripada penyelesaian persoalan rakyat, maka nilai-nilai luhur kehilangan daya hidupnya.
Masyarakat kecil tidak cukup diberi nasihat tentang kesabaran jika hak-haknya diabaikan. Mereka tidak hanya membutuhkan pidato tentang moralitas, tetapi juga keadilan, pelayanan yang layak, dan pemimpin yang berani mempertanggungjawabkan amanahnya.
Sebab, kesalehan semestinya tidak berhenti di tempat ibadah. Ia harus hadir dalam keputusan, tindakan, kebijakan, dan cara manusia memperlakukan sesamanya.
Jangan sampai seseorang begitu sibuk menunjukkan kedekatannya dengan Tuhan, tetapi lupa memperbaiki hubungannya dengan manusia. Jangan sampai kita merasa telah menjadi manusia baik hanya karena menjalankan ritual, sementara kejujuran, empati, dan tanggung jawab justru tertinggal jauh di belakang.
Sebab, yang paling berbahaya bukanlah manusia yang kurang berbicara tentang kebaikan, melainkan manusia yang terus berbicara tentang kebaikan, tetapi menolak mengoreksi keburukan dalam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ritual adalah bagian dari perjalanan spiritual, bukan alasan untuk berhenti berpikir. Keimanan tidak semestinya mematikan nalar, dan kesalehan tidak seharusnya membungkam nurani.
Sejenak saja kita renungkan: jangan sampai kita rajin ber-ritual, tetapi lupa berakal; fasih berbicara tentang kebenaran, tetapi kehilangan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.(red)












