Ketika Ilmu Banyak, Tetapi Arah Kehidupan Hilang
Oleh: Cecep Anang Hardian
“Jembatan keledai” hanyalah cara sederhana untuk membantu manusia mengingat sesuatu yang sulit. Tetapi dari kesederhanaan itu, ada pelajaran yang jauh lebih dalam: apa gunanya ilmu jika yang diingat hanya pengetahuan, sementara adab justru dilupakan?
Manusia bisa menghafal banyak teori, memahami berbagai istilah, bahkan berbicara panjang tentang kebenaran. Tetapi pengetahuan tidak otomatis menjadikan seseorang bijaksana.
Sebab ilmu tanpa adab bisa berubah menjadi kesombongan.
Kekuasaan tanpa moral bisa berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Kepandaian tanpa nurani bisa digunakan untuk membenarkan kepentingan diri sendiri.
Di sinilah “jembatan keledai” menjadi sebuah perumpamaan kehidupan.
Kita membutuhkan jembatan untuk menyeberangkan ingatan. Tetapi dalam kehidupan, manusia membutuhkan jembatan hati untuk menyeberangkan ilmu menuju perilaku.
Jangan sampai kepala penuh ilmu, tetapi hati kosong dari kebijaksanaan.
Jangan sampai pandai menjelaskan kebenaran, tetapi lupa menjalankannya.
Dan jangan sampai seseorang begitu sibuk mengejar pengakuan sebagai orang berilmu, sampai lupa bahwa ukuran tertinggi dari ilmu bukan seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa baik ilmu itu membentuk diri kita.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya akan dikenang karena apa yang pernah ia katakan.
Ia akan dikenang karena apa yang ia lakukan ketika memiliki ilmu, kekuasaan, kesempatan, dan pilihan.
Karena ilmu adalah cahaya.
Tetapi tanpa arah, bahkan cahaya pun tidak akan menunjukkan jalan.(red)












