Beranda / Opini / Ketika Pencitraan Terus Dipertontonkan, tetapi Kekecewaan Masyarakat Belum Terselesaikan

Ketika Pencitraan Terus Dipertontonkan, tetapi Kekecewaan Masyarakat Belum Terselesaikan

(Tangerang) — Ada fenomena yang patut menjadi bahan introspeksi bagi para pemangku kebijakan. Berita yang mengangkat kekecewaan masyarakat, buruknya pelayanan publik, sulitnya mencari pekerjaan, serta berbagai persoalan pembangunan kerap mengundang rasa ingin tahu yang besar. Sementara itu, berita yang hanya menonjolkan keberhasilan dan pujian terhadap pejabat belum tentu mendapatkan perhatian yang sama.

Mengapa hal ini terjadi?

Apakah masyarakat semakin gemar membaca berita negatif? Ataukah ada persoalan yang lebih mendasar, yakni kesenjangan antara apa yang dipublikasikan sebagai keberhasilan dan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat?

Pertanyaan inilah yang semestinya dijawab secara jujur.

Pencitraan Bisa Membangun Persepsi, tetapi Tidak Selalu Membangun Kepercayaan

Dalam pemerintahan, publikasi mengenai pembangunan dan keberhasilan program tentu bukan sesuatu yang salah. Masyarakat berhak mengetahui apa yang telah dikerjakan pemerintah menggunakan anggaran publik.

Namun, persoalan muncul ketika pemberitaan keberhasilan terus-menerus ditonjolkan, sementara keluhan masyarakat yang belum terselesaikan justru kurang mendapatkan perhatian.

Pembangunan jalan, gedung, taman, dan berbagai fasilitas publik memang dapat menjadi bukti kegiatan pemerintah. Akan tetapi, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari apa yang terlihat, melainkan juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Apa artinya pembangunan yang terlihat megah apabila persoalan pelayanan kesehatan masih dikeluhkan? Apa artinya program penciptaan lapangan kerja apabila masyarakat masih kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak?

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan bahwa pemerintah gagal, melainkan bentuk kritik yang seharusnya dijawab dengan data, evaluasi, dan tindakan nyata.

Masyarakat Lebih Penasaran karena Ingin Mendapatkan Jawaban

Ketika sebuah berita mengangkat dugaan penyimpangan, keluhan pelayanan, atau kebijakan yang dipersoalkan, masyarakat cenderung ingin mengetahui kelanjutannya.

Mereka ingin tahu apa penyebabnya, siapa pihak yang bertanggung jawab, bagaimana tanggapan pihak terkait, dan apakah persoalan tersebut benar-benar diselesaikan.

Rasa penasaran ini tidak serta-merta berarti masyarakat menyukai keburukan. Bisa jadi, mereka sedang mencari informasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Sebaliknya, berita yang hanya berisi pujian tanpa menyajikan data pembanding, tantangan, atau evaluasi berisiko dianggap kurang memberikan informasi baru.

Masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu bahwa pembangunan berhasil. Mereka juga berhak mengetahui siapa yang merasakan manfaatnya, persoalan apa yang masih tersisa, dan apa langkah perbaikannya.

Jangan Salah Membaca Kritik sebagai Kebencian

Salah satu kekeliruan dalam menyikapi kritik publik adalah menganggap orang yang mengungkap kekurangan sebagai pihak yang selalu mencari kesalahan.

Padahal, kritik yang disampaikan berdasarkan fakta merupakan bagian penting dari kontrol sosial dalam demokrasi.

Pejabat publik perlu membedakan kritik yang disertai bukti dari fitnah, tuduhan tanpa dasar, atau serangan pribadi. Kritik yang sah tidak semestinya dihindari hanya karena membuat pihak tertentu merasa tidak nyaman.

Justru, ketika keluhan yang sama terus muncul, pemerintah patut memeriksa apakah terdapat persoalan mendasar yang belum ditangani secara memadai.

Mengabaikan kritik tidak membuat masalah menghilang. Menghapus pemberitaan pun tidak otomatis menghapus kekecewaan masyarakat.

Yang dapat memulihkan kepercayaan adalah penyelesaian masalah yang bisa dilihat, diukur, dan dirasakan.

Berita Negatif yang Terus Berulang Juga Bisa Menimbulkan Apatisme

Namun, media juga perlu melakukan introspeksi. Pemberitaan kritis yang berulang tanpa perkembangan informasi, tindak lanjut, atau penjelasan mengenai solusi berisiko membuat masyarakat lelah dan kehilangan kepercayaan.

Jika setiap hari masyarakat hanya disuguhi persoalan tanpa melihat adanya perbaikan, sebagian pembaca bisa merasa bahwa keadaan tidak akan berubah.

Karena itu, jurnalisme kritis tidak cukup hanya mengungkap masalah. Media juga harus mengawal penyelesaiannya, memeriksa perkembangan kasus, menguji klaim keberhasilan, serta memberikan ruang bagi jawaban dari pihak yang diberitakan.

Kritik harus tajam, tetapi tetap berdasarkan fakta. Keberanian mengungkap persoalan harus berjalan seiring dengan ketelitian, keberimbangan, dan tanggung jawab jurnalistik.

Pertanyaan untuk Pemangku Kebijakan: Apa yang Sebenarnya Dirasakan Masyarakat?

Bagi kepala daerah, anggota DPRD, dan seluruh pemangku kebijakan, tingginya perhatian terhadap berita keluhan seharusnya menjadi bahan evaluasi.

Jangan hanya menghitung berapa banyak program yang dipublikasikan, berapa banyak kegiatan yang diberitakan, atau seberapa positif pemberitaan tentang kepemimpinan.

Evaluasi yang lebih penting adalah apakah pelayanan publik semakin baik, apakah akses pendidikan dan kesehatan semakin mudah, apakah kesempatan kerja semakin terbuka, dan apakah pengaduan masyarakat ditangani secara serius.

Keberhasilan tidak cukup diumumkan oleh pihak yang menjalankan program. Keberhasilan juga perlu diuji melalui data, pengawasan, evaluasi independen, dan pengalaman masyarakat sebagai penerima manfaat.

Apabila pemerintah merasa telah bekerja dengan baik, kritik seharusnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan bukti, bukan alasan untuk menutup ruang pertanyaan.

Penutup: Rakyat Membutuhkan Bukti, Bukan Sekadar Persepsi

Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata mengapa berita negatif lebih menarik perhatian dibandingkan berita pencitraan. Persoalan yang lebih penting adalah mengapa keluhan tertentu terus menjadi perhatian publik dan apakah keluhan tersebut sudah ditangani dengan sungguh-sungguh.

Pemerintah membutuhkan komunikasi publik, tetapi komunikasi tidak boleh menggantikan pelayanan. Pencitraan boleh menjadi bagian dari publikasi, tetapi tidak boleh dijadikan ukuran tunggal keberhasilan.

Media pun tidak boleh menjadi corong pujian maupun mesin pembentuk prasangka. Tugasnya adalah menyampaikan fakta, menguji pernyataan, membuka ruang klarifikasi, dan mengawal kepentingan masyarakat.

Sebab, pencitraan dapat membuat seorang pemimpin terlihat berhasil, tetapi hanya kinerja nyata yang dapat membuktikan keberhasilannya.

Dan ketika masyarakat lebih ramai membicarakan kekecewaan daripada keberhasilan yang dipublikasikan, pertanyaan paling mendasar bukanlah bagaimana membuat pencitraan lebih menarik, melainkan bagaimana memastikan bahwa keberhasilan itu benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Penulis: Asep Wawan Wibawan ( AWW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *