Oleh: Cecep Anang Hardian
Di tengah hiruk-pikuk politik modern, kebenaran sering kali tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh siapa yang paling keras berteriak. Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat bertemunya gagasan dan argumentasi kini berubah menjadi arena pertarungan opini yang dipenuhi emosi, propaganda, dan penghakiman massal.
Ada sebuah petuah lama yang masih relevan hingga hari ini: elang memilih menguasai langit dalam kesunyian, sementara lalat berkerumun di sekitar bangkai dan kebusukan. Dalam kehidupan politik, perumpamaan ini menggambarkan perbedaan mencolok antara mereka yang berjuang menjaga integritas dan mereka yang menjadikan kebisingan sebagai alat meraih keuntungan.
Politik Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius. Demokrasi yang seharusnya dibangun di atas fondasi akal sehat, transparansi, dan adu gagasan perlahan tergerus oleh budaya pencitraan. Banyak tokoh lebih sibuk membangun persepsi daripada menyelesaikan persoalan rakyat. Debat publik sering kehilangan substansi dan berubah menjadi pertunjukan yang dirancang untuk menghasilkan tepuk tangan, bukan solusi.
Media sosial mempercepat gejala tersebut. Dalam hitungan detik, sebuah isu dapat meledak menjadi perdebatan nasional tanpa proses verifikasi yang memadai. Kebenaran sering kali kalah cepat dibandingkan fitnah. Data kalah oleh narasi. Fakta tenggelam dalam lautan emosi.
Akibatnya, masyarakat semakin mudah terpecah. Perbedaan pandangan politik tidak lagi dipandang sebagai bagian dari demokrasi, melainkan dianggap sebagai alasan untuk saling menyerang. Mereka yang mencoba bersikap objektif justru sering dicurigai, sementara mereka yang paling agresif dalam menyerang lawan politik mendapat panggung yang lebih besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa politik kita sedang mengalami krisis kedewasaan. Banyak pihak lebih memilih membangun musuh bersama daripada membangun masa depan bersama. Kebencian menjadi komoditas yang laris. Polarisasi dijadikan strategi. Padahal sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang besar tidak dibangun oleh mereka yang gemar memelihara permusuhan, melainkan oleh mereka yang berani merawat persatuan di tengah perbedaan.
Dalam situasi seperti ini, keberanian memiliki makna yang berbeda. Keberanian bukan hanya berdiri di atas mimbar dan berpidato lantang. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap berpihak pada kebenaran ketika mayoritas memilih diam. Keberanian adalah menolak ikut menyebarkan fitnah meskipun fitnah itu menguntungkan kelompok sendiri. Keberanian adalah mempertahankan integritas ketika tekanan politik menuntut kompromi terhadap nurani.
Indonesia membutuhkan lebih banyak “elang” daripada “lalat”. Lebih banyak pemimpin yang bekerja dalam kesunyian daripada politisi yang hidup dari kegaduhan. Lebih banyak warga yang berpikir kritis daripada massa yang mudah digiring oleh emosi sesaat.
Karena pada akhirnya, demokrasi tidak akan runtuh hanya oleh korupsi kekuasaan. Demokrasi juga dapat melemah ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebisingan. Ketika suara yang paling nyaring dianggap paling benar, maka akal sehat perlahan tersingkir dari ruang publik.
Sudah saatnya politik kembali kepada esensinya: melayani rakyat, bukan memecah rakyat. Sebab bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak kerumunan yang saling mencaci. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang berani terbang tinggi menjaga kehormatan, integritas, dan kebenaran di atas segala kepentingan sesaat.
Karena elang tidak pernah meminta pengakuan dari kerumunan. Ia cukup terbang tinggi, dan langitlah yang menjadi saksi kebesarannya.( red )












