( Jakarta )– Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menyebutkan, kalau ingin maju harus meninggalkan zakat, sebagai pernyataan ceroboh yang merendahkan sekaligus melemahkan semangat umat Islam untuk berzakat.
Demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni PP Ibadurrahman YLPI Sukabumi, Jabar, Toto Izul Fatah kepada pers di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
“Ini bukan slip of the tongue, tapi kecerobohan. Karena Pak Menag mengatakannya dengan sadar, bahwa jika kita ingin maju harus meninggalkan zakat. Kalau tidak sadar, dalam psikologi disebut freudian slip. Tapi, dalam kontek ini, Pak Menag mengatakannya bukan hanya sadar, tapi seperti telah diniatkan,” katanya.
Terkait alasan video yang menayangkannya dipotong, menurut Toto, jika ditonton utuh sampai selesai pun tetap saja tak mengurangi nilai kecerobohannya. Meskipun, ada penjelasan tambahan tentang pentingnya melakukan optimalisasi lewat sodaqah.
“Ini bukan sekedar salah potong video, tapi ini alarm standar komunikasi yang buruk. Zakat itu rukun Islam. Dan rukun bukan bahan untuk uji coba diksi, yang menggeser kewajiban menjadi opsi. Ini frasa membingungkan yang harus dibayar mahal oleh kepercayaan umat,” ungkapnya.
Dalam pandangan Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA ini, pentingnya zakat itu bukan diukur dari populer atau tidaknya dalam alQuran sebagaimana didalilkan Menag. Tapi, pada spirit pesan zakat yang masuk dalam kategori dimensi sosial atau muamalah dalam Islam.
Dalam sepengetahuan Toto, dimensi sosial atau muamalah dalam Islam seperti zakat, menurut banyak ahli tafsir, justru yang mendominasi ayat-ayat dalam alQuran dengan lebih dari 90%, ketimbang ayat-ayat tentang dimensi riitual atau mahdhoh seperti shalat dan puasa.
Toto berpendapat, zakat itu justru harus menjadi instrumen peradaban, bukan beban yang menghambat kemajuan. Kenapa? Karena salah satu misi zakat itu mendidik jiwa agar tidak rakus, sekaligus menata masyarakat agar tidak dibiarkan timpang.
“Jadi, zakat itu fondasi, bukan penghambat. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan hanya karena alasan ingin maju. Justru, zakat itu punya fungsi tazkiyah atau penyucian,” tegasnya.
Lebih dari itu, lanjut Toto, zakat juga berperan sebagai mekanisme keadilan yang sangat konkret, karena punya sasaran penerima yang jelas (delapan asnaf), sehingga bukan sekadar “amal” yang mengambang, tetapi sistem distribusi yang terukur.
Atas dasar itulah, Toto mengaku prihatin muncul pernyataan Menag tadi sebagai framing yang berbahaya karena membuka ruang disinformasi. Sehingga, publik menangkapnya sebagai ajakan meniadakan rukun Islam.
Jika pernyataan itu tak segera diklarifikasi, kata Toto, sangat berpotensi mencederai literasi keagamaan publik, apalagi di momen ketika masyarakat justru butuh pegangan moral agar lebih yakin untuk mengeluarkan zakat.
Jika Menag ingin mengoptimalkan zakat lewat infak dan shodaqah, menurut Toto, silakan aja dikampanyekan. Tapi, tidak dengan cara merendahkan dan melemahkan salah satunya. Apalagi, dengan iming-iming kemajuan. Karena kemajuan sejati itu tidak harus lahir dengan menurunkan standar ajaran, tapi dengan menaikan standar tanggungjawabnya. Zakat tetap sebagai fondasi, sementara infak dan sodaqah sebagai akselerasi atau ekspansi agar lebih maksimal.
“Atau, jika Pak Menag ingin hasil zakat lebih maksimal, bisa saja undang para ulama untuk berijtihad. Misalnya, dengan dalil tertentu, mulai sekarang zakat tak lagi 2,5%, tapi bisa 10% dan wajib dikeluarkan setiap kali mendapat rizki kapan saja. Bukan setahun sekali,” tandasnya. Dilansir dari BERITABUANA CO,
( AWW )












