Beranda / Berita / Artikel / KURSI TINGGI, JANGAN SAMPAI HATI MENJADI RENDAH

KURSI TINGGI, JANGAN SAMPAI HATI MENJADI RENDAH

Oleh: Cecep Anang Hardian

Ada orang yang ketika belum memiliki kekuasaan begitu mudah mendekati rakyat. Menyalami tangan mereka, mendengar keluhan mereka, bahkan berjanji akan memperjuangkan kepentingan mereka.

Namun setelah duduk di kursi kekuasaan, jarak tiba-tiba tercipta.

Yang dahulu dianggap saudara berubah menjadi sekadar masyarakat.
Yang dahulu disebut sahabat berubah menjadi pengganggu.
Yang dahulu suaranya dicari, kini justru diminta diam.
Begitulah ketika seseorang mulai lupa bahwa kursi tinggi tidak pernah membuat dirinya lebih tinggi daripada rakyat.

Kekuasaan pada dasarnya hanyalah titipan. Ia datang dengan batas waktu dan suatu hari akan pergi tanpa permisi.

Yang sering dilupakan adalah satu hal sederhana: orang kecil mungkin tidak memiliki kursi kekuasaan, tetapi merekalah yang membuat kursi itu memiliki arti.

Tanpa rakyat, jabatan hanyalah gelar.
Tanpa masyarakat, kekuasaan hanyalah simbol.
Tanpa kepercayaan publik, seorang penguasa sebenarnya tidak memiliki apa-apa selain kewenangan yang sewaktu-waktu berakhir.

Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap kritik sebagai ancaman.
Bisa jadi suara yang paling keras mengkritik justru adalah suara yang masih peduli.

Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika masyarakat sudah tidak mau lagi berbicara, tidak lagi berharap, dan tidak lagi percaya.
Sebab diamnya rakyat bukan selalu tanda bahwa mereka setuju. Terkadang itu adalah tanda bahwa mereka sudah lelah berharap.

Penguasa yang kuat bukanlah penguasa yang mampu membungkam suara berbeda.

Penguasa yang kuat adalah mereka yang cukup besar hatinya untuk mengatakan, “Mari kita dengarkan.”
Sebab seorang pemimpin tidak akan kehilangan wibawa hanya karena menerima kritik.

Sebaliknya, seorang pemimpin justru kehilangan wibawa ketika menggunakan kekuasaan untuk menjauh dari suara rakyat.
Jangan sampai semakin tinggi kursi yang diduduki, semakin rendah kepedulian terhadap mereka yang berada di bawah.

Sebab ketika masa jabatan berakhir, tidak ada lagi protokoler yang mengiringi. Tidak ada lagi barisan yang berdiri memberi hormat. Tidak ada lagi pintu yang terbuka hanya karena jabatan.

Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
“Selama berkuasa, apa yang telah dilakukan untuk mereka yang dahulu mempercayainya?”
Pada akhirnya, orang kecil tidak membutuhkan penguasa yang merasa paling besar.

Mereka membutuhkan pemimpin yang mau hadir ketika mereka membutuhkan.
Mau mendengar ketika mereka berbicara.

Mau mengakui ketika terjadi kesalahan.
Dan mau berdiri bersama rakyat, bukan hanya berdiri di atas rakyat.
Karena sejatinya, penguasa tanpa rakyat hanyalah seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi.

Kursi itu bisa tinggi.
Jabatannya bisa besar.
Kekuasaannya bisa luas.
Tetapi semuanya tidak berarti apa-apa ketika kepercayaan rakyat telah hilang.
Maka, setinggi apa pun kursi kekuasaan, jangan pernah membuat hati menjadi rendah terhadap rakyat.
Sebab kekuasaan bisa membuat seseorang dikenal banyak orang.
Tetapi hanya kerendahan hati yang membuat seseorang dikenang dengan baik.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *