Beranda / Berita / Artikel / SAMPAH-SAMPAH SEJARAH

SAMPAH-SAMPAH SEJARAH

Oleh: Cecep Anang Hardian

TIDAK SEMUA YANG PERNAH BERKUASA AKAN MENJADI TELADAN. SEBAB WAKTU PADA AKHIRNYA AKAN MEMILAH, MANA JEJAK YANG PATUT DIKENANG DAN MANA YANG CUKUP MENJADI PELAJARAN.

Ada orang yang datang membawa harapan, berbicara tentang perubahan, dan berdiri di tengah masyarakat dengan janji pengabdian.

Namun ketika amanah telah berada di tangannya, perlahan jarak tercipta. Suara rakyat semakin jauh terdengar, kritik mulai dianggap sebagai gangguan, sementara kekuasaan terkadang lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada memperbaiki keadaan.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa kekuasaan bukanlah ukuran kebesaran seseorang. Cara seseorang menggunakan kekuasaanlah yang menunjukkan kualitas dirinya.

Kursi bisa meninggi.

Jabatan bisa berganti.

Pengaruh bisa datang dan pergi.

Tetapi jejak perbuatan akan selalu memiliki tempat dalam ingatan masyarakat.

Karena itu, sejarah sesungguhnya bukan hanya tentang siapa yang pernah berada di atas panggung kekuasaan.

Sejarah juga berbicara tentang apa yang ditinggalkan setelah seseorang turun dari panggung tersebut.

Ada yang meninggalkan karya.

Ada yang meninggalkan keteladanan.

Ada pula yang meninggalkan persoalan yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan.

Jika boleh menggunakan sebuah perumpamaan, maka persoalan-persoalan yang diwariskan itulah yang dapat disebut sebagai “sampah-sampah sejarah”—bukan untuk merendahkan manusia, melainkan sebagai gambaran tentang jejak buruk yang semestinya menjadi pelajaran agar tidak kembali diulangi.

JEJAK YANG TIDAK SELALU TERLIHAT

Sampah dalam kehidupan tidak selalu berupa sesuatu yang terlihat dan dapat disentuh.

Ada pula “sampah” yang tumbuh dalam kehidupan sosial: ketidakadilan yang dibiarkan, kebohongan yang dipelihara, amanah yang diabaikan, serta keputusan-keputusan yang lebih mengutamakan kepentingan tertentu daripada kepentingan masyarakat luas.

Ia mungkin tidak tampak secara kasatmata.

Namun dampaknya dapat dirasakan.

Orang yang membuat keputusan mungkin telah berganti.

Pejabatnya mungkin telah berganti.

Pemerintahannya mungkin telah berubah.

Tetapi konsekuensinya masih menjadi pekerjaan rumah bagi generasi berikutnya.

Inilah jejak yang seharusnya kita bersihkan bersama melalui evaluasi, keterbukaan, dan keberanian untuk belajar dari masa lalu.

JANGAN TERLALU TINGGI MENILAI DIRI KETIKA SEDANG BERADA DI ATAS

Kekuasaan sering kali membuat seseorang lupa bahwa posisi yang tinggi bukan berarti dirinya lebih tinggi daripada rakyat.

Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tetap rendah hati.

Sebab rakyat bukan sekadar angka dalam laporan.

Rakyat bukan sekadar suara ketika pemilihan berlangsung.

Dan rakyat bukan sekadar latar belakang bagi sebuah pencitraan.

Rakyat adalah alasan mengapa kekuasaan itu diberikan.

Maka pertanyaan terpenting bagi setiap pemegang amanah bukanlah:

“Seberapa tinggi posisi saya?”

Melainkan:

“Seberapa besar manfaat yang telah saya berikan selama berada di posisi tersebut?”

Karena pada akhirnya, jabatan akan berakhir.

Yang tersisa adalah penilaian masyarakat dan catatan sejarah.

SAATNYA PUBLIK BERCERMIN

Refleksi ini bukan semata-mata ditujukan kepada mereka yang berada di kursi kekuasaan.

Masyarakat pun perlu bercermin.

Kita perlu belajar untuk tidak mudah mengagungkan seseorang hanya karena jabatan, popularitas, atau kedekatan dengan kekuasaan.

Kita juga perlu membangun budaya yang sehat: berani mengapresiasi ketika pemerintah bekerja dengan baik dan berani menyampaikan kritik ketika kebijakan menyimpang dari kepentingan publik.

Kritik bukan kebencian.

Pengawasan bukan permusuhan.

Pertanyaan bukan pembangkangan.

Justru semuanya merupakan bagian dari tanggung jawab publik dalam menjaga agar kekuasaan tetap berada pada jalurnya.

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya: warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan untuk generasi berikutnya?

Apakah hanya bangunan dan angka-angka pembangunan?

Ataukah juga integritas, keadilan, keteladanan, serta keberanian untuk memperbaiki kesalahan?

SEJARAH TIDAK PERLU MEMBENCI, CUKUP MENGINGAT

Sejarah tidak perlu marah.

Sejarah tidak perlu membalas.

Sejarah hanya perlu mengingat.

Dan ingatan itu kelak menjadi cermin bagi generasi yang datang setelah kita.

Mereka akan melihat siapa yang menggunakan kekuasaan untuk mengabdi.

Siapa yang memilih mendengar daripada merasa paling benar.

Siapa yang meninggalkan karya.Dan siapa yang meninggalkan persoalan.

Maka istilah “sampah-sampah sejarah” sebaiknya kita maknai bukan sebagai penghinaan kepada siapa pun, tetapi sebagai sebuah peringatan:

Jangan meninggalkan jejak yang kelak harus dibersihkan oleh generasi berikutnya.

Sebab manusia boleh berganti.Kursi boleh berpindah.Zaman boleh berubah.Tetapi nilai dari sebuah pengabdian akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang.Pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri yang menentukan tempat kita dalam sejarah, melainkan seberapa baik kita menggunakan kesempatan ketika berada di sana.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *