Semakin tidak disukai, semakin menjadi.
Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap keras kepala. Tetapi secara manusiawi, ada alasan di baliknya.
Ketika seorang warga merasa tidak disukai oleh pejabat hanya karena menyampaikan kritik, mempertanyakan kebijakan, atau menyuarakan keluhan masyarakat, ada dua pilihan: diam karena takut, atau tetap berbicara karena merasa ada sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Tidak semua orang memilih diam.
Justru ketika seseorang merasa diperlakukan berbeda karena sikap kritisnya, keberanian untuk bersuara terkadang semakin kuat. Bukan karena ingin mencari musuh, melainkan karena muncul keyakinan bahwa kritik terhadap pejabat bukan sebuah kesalahan.
Pejabat memiliki kekuasaan dan kewenangan. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, kritik, dan aspirasi.
Karena itu, ketidaksukaan seorang pejabat terhadap individu atau kelompok masyarakat seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan aspirasi mereka.
Begitu pula sebaliknya, masyarakat harus tetap menyampaikan kritik berdasarkan fakta, tidak memfitnah, dan tidak menyerang pribadi.
Sebab dalam demokrasi, yang boleh berbeda adalah pendapatnya, bukan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Dan mungkin inilah sisi paling manusiawi dari sebuah kritik:
Semakin seseorang merasa tidak disukai karena menyuarakan kebenaran yang diyakininya, semakin sulit pula ia dipaksa untuk diam.












