Beranda / Berita / Artikel / Wanita dan waktu

Wanita dan waktu

Oleh Cecep Anang Hardian

Wanita dan waktu memiliki hubungan yang tidak pernah sederhana. Keduanya sama-sama indah, sama-sama kuat, namun sering kali tidak dipahami sepenuhnya. Waktu mengajarkan perubahan, sementara wanita menjalani perubahan itu dengan hati yang lebih dalam dibanding yang terlihat oleh mata.

Seorang wanita tidak hanya bertambah usia. Ia tumbuh melalui luka, pengorbanan, harapan, dan kesabaran yang sering kali tidak pernah diketahui orang lain. Ada fase di mana ia menjadi gadis penuh mimpi, lalu berubah menjadi sosok yang belajar menahan kecewa tanpa banyak bicara. Waktu membentuknya perlahan, kadang dengan kelembutan, kadang dengan cara yang sangat keras.

Banyak orang hanya melihat wanita dari penampilannya. Padahal di balik senyum yang terlihat tenang, ada banyak hal yang sedang ia perjuangkan diam-diam. Waktu membuat wanita belajar menyimpan tangis agar tidak terlihat lemah. Ia belajar tetap berjalan meski hatinya pernah dihancurkan oleh harapan yang gagal dipertahankan.

Wanita juga memiliki cara sendiri dalam memaknai waktu. Saat muda, ia sering mengejar perhatian. Namun ketika dewasa, ia mulai memahami bahwa ketenangan jauh lebih mahal daripada sekadar pujian. Ia tidak lagi sibuk mencari siapa yang datang, tetapi mulai memilih siapa yang benar-benar pantas bertahan.

Ada wanita yang semakin kuat karena waktu, tetapi ada pula yang perlahan lelah karena terlalu lama bertahan sendirian. Sebab waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang waktu hanya mengajarkan seseorang untuk terbiasa dengan rasa sakitnya sendiri.

Yang paling menarik, wanita sering kali tetap mampu mencintai meski pernah dikecewakan berkali-kali. Hatinya mungkin retak, tetapi kasihnya tetap hidup. Ia mampu tetap peduli di tengah luka yang belum sepenuhnya pulih. Di situlah letak kekuatan yang tidak dimiliki semua orang.

Waktu juga mengajarkan bahwa kecantikan wanita bukan sekadar wajah. Kecantikan sejati lahir dari cara ia bertahan, cara ia memaafkan, cara ia bangkit setelah jatuh, dan cara ia tetap lembut di dunia yang sering kali kasar terhadap perasaannya.

Pada akhirnya, wanita dan waktu adalah dua hal yang saling memahami dalam diam. Waktu membentuk wanita menjadi lebih matang, sementara wanita mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dilawan dengan keras. Kadang keteguhan terbesar justru lahir dari hati yang tetap lembut meski berkali-kali dihantam kehidupan.

( red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *