Oleh: Cecep Anang Hardian
Jangan hina pengemis
yang berdiri di lampu merah,
karena ia meminta
demi mengalahkan lapar.
Hinalah nurani
yang menjadikan kekuasaan
sebagai mangkuk terbesar
untuk meminta
tanpa pernah merasa cukup.
Pengemis di jalan
tak pernah berjanji
akan membangun negeri.
Ia hanya berharap
ada sepotong roti
untuk anak yang menunggu di rumah.
Tetapi pengemis politik…
Mereka meminta suara
atas nama perubahan.
Mereka meminta kepercayaan
atas nama pengabdian.
Mereka meminta doa
atas nama perjuangan.
Namun ketika singgasana
berhasil mereka genggam,
rakyat kembali menjadi antrean,
bukan lagi tujuan.
Mereka tak lagi meminta suara.
Mereka meminta pujian.
Meminta kesetiaan.
Meminta rakyat diam.
Meminta hukum menunduk.
Meminta media memuji.
Meminta kritik dibungkam.
Dan ketika semua itu
tak lagi cukup,
mereka meminta
masa jabatan yang lebih panjang,
pengaruh yang lebih besar,
dan kekuasaan
yang tak pernah selesai dipeluk.
Ironis…
Pengemis di trotoar
masih tahu arti cukup.
Sedangkan pengemis kekuasaan,
semakin kenyang,
semakin rakus.
Mungkin…
yang paling miskin
bukan mereka
yang tidur di emperan.
Melainkan mereka
yang kehilangan rasa malu
demi mempertahankan kursi.
Karena jabatan
bukan hak milik.
Kekuasaan
bukan warisan.
Dan rakyat
bukan anak tangga
yang diinjak saat naik,
lalu dilupakan
ketika telah berada di puncak.
Waspadalah…
Sebab sebuah bangsa
tidak runtuh
karena banyaknya orang miskin.
Tetapi karena terlalu banyak
orang yang miskin hati
namun kaya kuasa.
Saat itu terjadi,
yang lahir bukan lagi pemimpin.
Melainkan…
Ketua para pengemis kekuasaan.








