JAKARTA — Sejumlah warga yang mengikuti demonstrasi terkait penetapan desil di Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta Pusat, harus patungan untuk membiayai transportasi menuju lokasi aksi.
Dalam laporan Kompas.com yang terbit 17 September 2026, warga disebut mengumpulkan uang sebesar Rp10.000 per orang untuk menyewa kendaraan odong-odong yang digunakan secara berkelompok.
Warga dari sejumlah wilayah Jakarta datang menggunakan sekitar 15 mobil odong-odong yang dibagi berdasarkan daerah asal. Sejumlah angkot juga disebut disewa untuk mengangkut peserta aksi.
Salah seorang peserta aksi, Nurjanah (60), warga Penjaringan, mengatakan dirinya baru pertama kali mengikuti demonstrasi tersebut. Ia menyebut uang Rp10.000 yang dikumpulkan digunakan untuk transportasi dan kebutuhan selama aksi.
Pernyataan serupa disampaikan Damar Setyaji dari Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) Jakarta Raya. Menurutnya, biaya transportasi tersebut berasal dari urunan warga dan bukan pendanaan dari sponsor.
Aksi tersebut berkaitan dengan keluhan warga mengenai penetapan desil, yang menjadi salah satu basis data dalam penyaluran bantuan sosial. Sejumlah warga menyampaikan keberatan karena merasa data mereka tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang mereka alami.
Dalam aksi tersebut, massa kemudian ditemui Menteri Sosial Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul. Demonstrasi dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan massa membubarkan diri sekitar pukul 13.30 WIB.
Fakta bahwa warga harus mengumpulkan uang sendiri untuk mendatangi kantor pemerintah menjadi bagian dari gambaran bagaimana masyarakat berusaha menyampaikan persoalan terkait data bantuan sosial secara langsung.
Namun, substansi persoalan tetap berada pada akurasi data desil dan dampaknya terhadap akses masyarakat terhadap bantuan sosial. Karena itu, perbaikan data dan mekanisme pengaduan menjadi hal penting untuk memastikan warga yang berhak tidak kehilangan akses akibat ketidaksesuaian data.
Sumber: Kompas.com, 17 September 2026.
(aww)












