Beranda / Berita / Artikel / AKHLAK DIUJI KETIKAKEKUASAANBERADA DI TANGAN

AKHLAK DIUJI KETIKAKEKUASAANBERADA DI TANGAN

Oleh: Asrp Wawan Wibawan

TANGERANG — Kita begitu mudah berbicara tentang akhlak Rasulullah SAW. Tentang kejujuran, amanah, keadilan, kesederhanaan dan kasih sayangnya kepada sesama.

Namun, akhlak sesungguhnya bukan diuji ketika kita tidak memiliki apa-apa.
Akhlak diuji ketika kita memiliki kekuasaan.

Ketika sebuah jabatan berada di tangan, ketika keputusan berada dalam kendali, ketika orang lain bergantung pada kebijakan kita, dan ketika ada kesempatan untuk menggunakan kewenangan bagi kepentingan diri sendiri maupun kelompok.
Di situlah amanah menemukan maknanya.

Kekuasaan bukan tiket untuk memperlakukan orang lain sesuka hati. Jabatan bukan alat untuk membangun kepentingan pribadi. Kewenangan bukan ruang untuk menekan, menguntungkan kelompok tertentu, atau mengabaikan kepentingan masyarakat.

Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan adalah amanah, bukan kemewahan untuk menikmati keistimewaan.

Karena itu, ketika kekuasaan mulai digunakan untuk kepentingan pribadi, ketika kritik dianggap sebagai ancaman, ketika orang yang berbeda pendapat dijauhkan, dan ketika kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan kelompok, maka patutlah kita bertanya:

Di mana letak amanahnya? Di mana keadilannya? Dan di mana akhlaknya?
Jangan sampai seseorang rajin berbicara tentang agama, tetapi ketika mendapatkan kekuasaan justru lupa bahwa setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban.
Jangan sampai mulut berbicara tentang keadilan, sementara keputusan justru melahirkan ketidakadilan.

Jangan sampai seseorang meminta masyarakat menghormati aturan, tetapi kekuasaan digunakan untuk mencari celah dari aturan itu sendiri.
Kekuasaan yang kehilangan akhlak dapat berubah menjadi alat untuk melayani kepentingan diri, bukan kepentingan rakyat.
Dan yang lebih berbahaya bukan hanya penyalahgunaan kekuasaan itu sendiri, tetapi ketika lingkungan di sekitarnya memilih diam karena takut kehilangan kepentingan.

Maka, kritik terhadap kekuasaan bukanlah kebencian.
Mengingatkan penguasa agar tetap berada di jalan amanah adalah bagian dari kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Sebab jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan memiliki akhir. Harta dapat ditinggalkan. Tetapi setiap amanah memiliki pertanggungjawaban.

Karena itu, sebelum menuntut masyarakat untuk berakhlak, mereka yang memegang kekuasaan seharusnya terlebih dahulu menunjukkan akhlaknya melalui keputusan dan tindakannya.

Rasulullah SAW bukan sekadar untuk dipuji dalam ceramah dan tulisan.
Keteladanan beliau seharusnya menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang amanah—terutama mereka yang memiliki kekuasaan.
Sebab rakyat tidak membutuhkan penguasa yang hanya pandai berbicara tentang kebaikan.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu membuktikan kebaikan itu melalui tindakan.
Sejenak saja kita renungkan: ketika kekuasaan berada di tangan kita, apakah kita sedang melayani amanah atau justru sedang menikmati kekuasaan?(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *