TANGERANG — Trauma panjang setelah mengalami pelayanan di rumah sakit disebut masih membekas dalam kehidupan keluarga pasien hingga bertahun-tahun.
Sejak awal kejadian, persoalan tersebut sudah viral dan diberitakan oleh puluhan media online. Namun, di tengah ramainya pemberitaan, seorang anggota DPRD Kota Tangerang disebut turun tangan memediasi persoalan tersebut.
Menurut keterangan keluarga, sejak awal mediasi dilakukan agar persoalan tidak semakin ramai dalam pemberitaan.
Keluarga kemudian dipanggil ke ruang fraksi untuk menyampaikan kronologi. Setelah mendengarkan penjelasan keluarga, anggota dewan tersebut juga berkomunikasi melalui telepon dengan pihak Humas RSUD Kota Tangerang.
Keluarga mengaku mendengar percakapan tersebut. Dari komunikasi itu, keluarga menangkap kesan bahwa persoalan tersebut lebih diarahkan agar tidak berkembang menjadi pemberitaan yang semakin luas.
Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah keluarga.
Apakah mediasi tersebut benar-benar diarahkan untuk menyelesaikan persoalan pasien, atau justru lebih berorientasi meredam pemberitaan?
Keluarga juga menilai anggota dewan tersebut terkesan lebih berpihak kepada pihak rumah sakit dibandingkan mendengarkan sepenuhnya persoalan yang mereka alami.
Namun, penilaian tersebut merupakan keterangan dan persepsi keluarga yang masih perlu dikonfirmasi kepada anggota DPRD yang bersangkutan maupun pihak RSUD Kota Tangerang.
Bukan Sekadar Soal Mediasi
Persoalan tersebut menjadi semakin berat karena dampaknya tidak berhenti setelah mediasi dilakukan.
Menurut keluarga, pengalaman di rumah sakit meninggalkan trauma panjang kepada pasien. Pasien menjadi enggan dan takut kembali menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
Keluarga terus memberikan dukungan dan motivasi agar pasien mau kembali mendapatkan pemeriksaan. Perlahan, pasien akhirnya bersedia kembali berobat.
Namun, kondisi kesehatannya kemudian semakin memburuk hingga pada 2026 pasien meninggal dunia setelah dirujuk ke RSCM Jakarta.
Keluarga meyakini, apabila trauma tersebut tidak berlangsung selama bertahun-tahun dan pasien lebih cepat kembali mendapatkan pemeriksaan, kondisi kesehatannya mungkin dapat tertangani lebih baik.
Pandangan tersebut merupakan keyakinan keluarga. Hubungan sebab-akibat antara trauma, keterlambatan pemeriksaan dan kondisi kesehatan pasien tentu membutuhkan penjelasan serta penilaian medis yang kompeten.
Kata Maaf Penting, Tetapi Tidak Cukup
Bagi keluarga, persoalan ini bukan hanya tentang permintaan maaf.
Yang mereka butuhkan adalah penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, evaluasi terhadap pelayanan, serta langkah nyata agar pengalaman serupa tidak dialami masyarakat lainnya.
Sebab, meredam pemberitaan bukan berarti menyelesaikan persoalan.
Pemberitaan mungkin berhenti. Persoalan mungkin tidak lagi ramai dibicarakan. Tetapi trauma pasien dan penderitaan keluarga tidak otomatis ikut berhenti.
Jika seorang wakil rakyat turun tangan, masyarakat tentu berharap kehadirannya menjadi jalan menuju penyelesaian yang adil dan terbuka.
Bukan sekadar membuat persoalan terlihat selesai.
Pertanyaan mengenai mediasi tersebut pun masih terbuka:
Apakah benar untuk membela kepentingan pasien dan mencari penyelesaian, atau ada kepentingan lain di baliknya?
Jawabannya seharusnya bukan melalui pencitraan, melainkan melalui keterbukaan, evaluasi dan penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena pada akhirnya, penderitaan pasien bukan panggung untuk siapa pun terlihat paling berjasa.
Yang dibutuhkan keluarga adalah empati, penjelasan dan kepastian.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar akhir 2022. Namun, menurut keluarga, dampaknya berlangsung bertahun-tahun hingga pasien akhirnya meninggal dunia pada 2026.
( aww )











