Oleh Cecep Anang Hardian
Di negeri yang semakin mabuk jabatan, manusia perlahan kehilangan nurani. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan ladang bisnis yang harus dipertahankan dengan cara apa pun, termasuk mengorbankan kesehatan, kehidupan, bahkan kematian orang lain demi menjaga aliran uang dan kekuasaan tetap berjalan.
Hari ini, terlalu banyak pejabat yang tampil seolah terhormat di depan publik, tetapi di balik meja-meja rapat dan ruang birokrasi, mereka membangun karier di atas penderitaan bawahannya sendiri. Ada yang dipaksa diam terhadap penyimpangan. Ada yang dijadikan tameng korupsi. Ada yang ditekan menandatangani kebijakan kotor. Dan ketika masalah meledak, mereka yang paling lemah dijadikan tumbal untuk menyelamatkan para pemangku kuasa.
Inilah wajah birokrasi dan politik yang sakit: sistem yang memelihara pengkhianatan sebagai strategi bertahan hidup.
Tidak sedikit pegawai yang akhirnya jatuh sakit bukan karena usia, tetapi karena tekanan mental yang brutal. Setiap hari hidup dalam ancaman mutasi, intimidasi, permainan jabatan, hingga tekanan psikologis yang perlahan membunuh jiwa mereka. Mereka dipaksa tersenyum di depan publik, sementara batinnya hancur karena menjadi korban kerakusan elite yang haus kekuasaan.
Lebih tragis lagi, ketika seseorang mulai sakit akibat tekanan kerja yang tidak manusiawi, mereka justru dianggap tidak loyal, lemah, atau tidak mampu mengikuti irama permainan kekuasaan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah tubuh mereka sedang menanggung racun dari sistem yang busuk.
Ada pejabat yang kariernya naik karena menjilat. Ada yang kaya mendadak karena proyek. Ada yang mempertahankan jabatan dengan menjual integritas. Namun di balik semua itu, ada bawahan yang dikorbankan diam-diam. Ada keluarga yang kehilangan ayahnya karena stres berkepanjangan. Ada orang-orang jujur yang dihancurkan karena menolak ikut bermain kotor.
Dan yang paling mengerikan, semua itu sering dibungkus dengan bahasa formal: “evaluasi kinerja”, “penyegaran organisasi”, “penataan birokrasi”, atau “demi kepentingan institusi.” Padahal kenyataannya hanyalah perebutan kekuasaan yang dipenuhi dendam, keserakahan, dan ketakutan kehilangan akses terhadap uang.
Banyak orang tidak sadar bahwa di balik jabatan mewah sering tersembunyi kuburan moral. Sebab ada karier yang dibangun dari air mata bawahan. Ada kekayaan yang lahir dari penderitaan pegawai kecil. Ada kekuasaan yang berdiri di atas kehancuran hidup orang lain.
Ironisnya, para pelaku sering tampil religius, bicara moral, bicara pengabdian, bicara rakyat, tetapi diam-diam menikmati sistem yang menghancurkan manusia secara perlahan. Mereka lupa bahwa penyakit bisa lahir dari tekanan batin. Bahwa tubuh manusia memiliki batas. Bahwa ketidakadilan yang terus dipelihara akan berubah menjadi kutukan sosial.
Sejarah selalu mencatat: kekuasaan yang dibangun dengan mengorbankan orang lain tidak pernah benar-benar mulia. Cepat atau lambat, kebusukan akan menemukan jalannya sendiri untuk terbuka. Sebab penderitaan manusia tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Negeri ini juga tidak kekurangan pejabat. Yang mulai langka justru manusia yang masih memiliki hati nurani.
Dan ketika jabatan mulai dipertahankan dengan menjadikan manusia lain sebagai tumbal penyakit, tekanan, dan kematian, maka sesungguhnya yang sedang sakit bukan hanya individunya — tetapi seluruh sistem kekuasaan itu sendiri. (red)











