Beranda / Berita / KETIKA MEDIA TERLALU SIBUK MENAYANGKAN PENCITRAAN, KONTROL SOSIAL KEHILANGAN TAJINYA

KETIKA MEDIA TERLALU SIBUK MENAYANGKAN PENCITRAAN, KONTROL SOSIAL KEHILANGAN TAJINYA

Ketika media lebih banyak memberitakan narasi pencitraan daripada realitas yang dirasakan masyarakat, fungsi kontrol sosial perlahan kehilangan kekuatannya.

Prestasi dipublikasikan.
Seremoni diberitakan.
Pernyataan pejabat dikutip.
Keberhasilan terus ditampilkan.

Namun, di sisi lain, keluhan masyarakat sering hanya menjadi suara yang lewat tanpa mendapatkan ruang yang sama.

Padahal, media bukan sekadar pengeras suara kekuasaan. Media memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan fakta, mengawasi kebijakan publik, dan memberi ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami.

Ketika pemberitaan hanya berputar pada pencitraan, sementara kritik dan keluhan publik tenggelam, yang terancam bukan hanya kualitas pemberitaan—tetapi juga kekuatan kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi.

Sebab, kekuasaan yang terlalu sering dipuji tanpa diuji akan mudah merasa bahwa dirinya selalu benar.

Di sinilah media seharusnya berdiri: bukan untuk menjadi corong kekuasaan, tetapi menjadi jembatan antara fakta, kebijakan, dan suara rakyat.

Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan berita tentang apa yang berhasil dilakukan pemerintah. Mereka juga berhak mengetahui apa yang belum selesai, apa yang gagal, dan apa yang masih menjadi persoalan di lapangan.

Jika media berhenti mengkritisi, siapa yang akan mengingatkan kekuasaan?

( aww )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *