Oleh: Cecep Anang Hardian
Jumat adalah waktu untuk bercermin.
Bukan bercermin pada wajah orang lain, tetapi pada wajah kita sendiri: masihkah kekuasaan yang kita pegang menjadi amanah, atau perlahan berubah menjadi kepentingan?
Politik daerah seharusnya menjadi jalan pengabdian. Namun ketika jabatan mulai dipandang sebagai pintu menuju kekuasaan, pengaruh, fasilitas, dan kepentingan kelompok, politik kehilangan ruhnya.
Rakyat akhirnya hanya dicari ketika suaranya dibutuhkan.
Setelah itu, mereka kembali menjadi penonton.
Padahal APBD bukan milik penguasa. Proyek pemerintah bukan milik pejabat. Jabatan bukan milik keluarga, kelompok, atau lingkaran kekuasaan.
Semuanya adalah amanah yang bersumber dari kepercayaan rakyat.
Karena itu, jangan sampai politik daerah berubah menjadi pasar: siapa dekat mendapat tempat, siapa kritis dianggap mengganggu, dan siapa bertanya tentang anggaran justru dicurigai.
Jika itu terjadi, yang rusak bukan hanya tata kelola pemerintahan. Yang rusak adalah kepercayaan publik.
Kritik tidak boleh dipandang sebagai kebencian.
Pertanyaan tentang APBD bukan permusuhan.
Permintaan membuka dokumen bukan ancaman.
Justru transparansi adalah cara paling sederhana untuk membuktikan bahwa kekuasaan benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Jangan takut pada keterbukaan jika tidak ada yang disembunyikan.
Sebab kursi kekuasaan memiliki batas waktu. Jabatan memiliki masa. Kekuasaan bisa berpindah tangan.
Tetapi jejak kebijakan akan tetap dikenang.
Masyarakat mungkin lupa siapa yang pernah duduk di sebuah kursi, tetapi mereka tidak akan mudah melupakan jalan yang rusak, pelayanan yang buruk, pembangunan yang tidak tepat sasaran, atau anggaran yang tidak pernah jelas pertanggungjawabannya.
Maka renungan Jumat hari ini sederhana:
Jangan jadikan politik sebagai alat untuk meninggikan diri. Jadikan politik sebagai jalan untuk merendahkan hati di hadapan amanah rakyat.
Sebab semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Dan ketika suatu hari semua kursi telah ditinggalkan, yang dibawa bukan jabatan, bukan fasilitas, bukan pengaruh.
Yang dibawa hanyalah amal, jejak, dan pertanggungjawaban.
Semoga politik daerah kembali menjadi ruang pengabdian.
Semoga kekuasaan tidak kehilangan hati.
Dan semoga para pemegang amanah selalu ingat:
Rakyat bukan alat untuk mendapatkan kekuasaan. Rakyat adalah alasan mengapa kekuasaan itu diberikan.
Selamat Jumat. Semoga kita semua tidak hanya pandai mencari kekuasaan, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan amanah.
(red)












